Sabtu, 05 Agustus 2017

Selebrasi Bali United yang penuh arti

Momen tersebut terjadi dalam pertandingan Liga 1 antara Bali United dan Perseru Serui di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Bali, Minggu (4/6/2017)
 Laga tersebut dimenangkan Bali United dengan skor 3-1. Seusai Irfan Bachdim mencetak gol ketiga untuk Bali United, tiga pemain yakni Ngurah Nanak, Yabes Roni, dan Miftahul Hamdi melakukan selebrasi keberagaman.
Pada gambar yang beredar di medsos, ketiga pemain tersebut berbaris berdampingan saat menunjukan selebrasi tersebut. Nanak di posisi paling kanan, Yabes di tengah, Miftahul paling kiri.

Nanak yang beragama Hindu terlihat menangkupkan tangannya ke atas di depan dahi. Yabes yang beragama Kristen berlutut sambil mencium kedua tangannya. Sedangkan Miftahul bersujud syukur dengan kepala menyentuh rumput lapangan.
Nanak mengaku senang apabila selebrasi mendapatkan reaksi positif dari publik.


"Apa yang kami lakukan spontan. Selebrasi itu merupakan wujud syukur kami. Dari selebrasi tersebut, kami juga menunjukkan bahwa kami bersaudara," , Selasa (6/6/2017).

"Sepak bola juga kan alat pemersatu. Sepak bola tidak mengenal agama dan ras karena kami membela bendera yang sama," tutur pemain yang pernah memperkuat Persija Jakarta tersebut.
Selebrasi ini mendapatkan sambutan positif tak terkecuali pemain sepak bola. Salah satunya adalah Ilija Spasojevic. Dia mengunggah foto selebrasi tersebut di Instagram-nya.

Selebrasi ini bukan kali pertama ditunjukkan pemain Bali United. Pada laga di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar, Minggu (14/5/2017) silam, selebrasi yang sama juga dilakukan.
Yabes yang saat itu mencetak gol ke gawang Borneo FC berlari ke sudut lapangan merayakan golnya tersebut. Saat itu, Miftahul dan pemain lain juga tampak menghampiri Yabes untuk merayakan gol pemain asal Alor tersebut.

 Yabes lalu berlutut sambil berdoa. Di samping Yabes, Miftahul dan Ricki Fajrin bersujud. Reaksi netizen juga sama kala itu. Banyak yang memuji karena selebrasi tersebut ibarat oase di tengah gejolak yang terjadi di Indonesia.

Sabtu, 15 Juli 2017

Memanjakan perut dan mata




Dengan harga set menu $2.000 per orang, Sublimotion (Platfa d en Bossa, Hard Rock Hotel Ibiza, Span yol; 34-618/891- 358; subIimot,onibiza.com tak ayal menyabet status restoran termahal sejagat. Tapi banderol fantastis tersebut sepertinya sepadan dengan tawarannya. Dilandasi filosofi bahwa makan  bukan cumna soal urusan perut, tapi juga asupan bagi mata dan jiwa, Sublimotion mengawinkan seni kuliner dengan teknologi visual mutakhir. Sembari menyantap hidangan, tamu bakal dihibur oleh presentasi video-mapping dan efek-efek khusus yang menghibur. Untuk sesi dessert misalnya, meja bakal mengeluarkan efek asap. Sedangkan untuk menu vegetarian, muncul alas rumput. Restoran yang berkapasitas cuma 12 orang itu dicetuskan oleh Paco Roncero, koki dengan rekain jjak yang panjang dan impresif. Saat bekerja di La Terraza del Casino, pria Spanyol mi sukses mendatangkan dua bintang Michelin. Pada 2005, dia menerima penghargaan restisius Chef l2Tvenir dan Spanish Royal Academy of Gastronomy. Membuat restoran yang bermain—main dengan teknologi seperti Sublimotion bukan hal baru baginya. Dua tahun silam, Roncero meluncurkan Paco Roncero
Taller, sebuah “laboratorium kuliner” di Casino de Madrid. Ruang eksperirnental mi mengeksplorasi teknologi cahaya, aroma, dan suara untuk menciptakan suasana makan atraktif yang melibatkan banyak indra sekaligus—suguhan rumit dan canggih yang dijulukinya “atelier ofemotions.”_HI ©

Selebrasi Bali United yang penuh arti

Momen tersebut terjadi dalam pertandingan Liga 1 antara Bali United dan Perseru Serui di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Bali, Minggu (4/6/2...