Momen tersebut terjadi dalam pertandingan Liga 1 antara Bali United dan Perseru Serui di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Bali, Minggu (4/6/2017)
Laga tersebut dimenangkan Bali United dengan skor 3-1. Seusai Irfan Bachdim mencetak gol ketiga untuk Bali United, tiga pemain yakni Ngurah Nanak, Yabes Roni, dan Miftahul Hamdi melakukan selebrasi keberagaman.
Pada gambar yang beredar di medsos, ketiga pemain tersebut berbaris
berdampingan saat menunjukan selebrasi tersebut. Nanak di posisi paling
kanan, Yabes di tengah, Miftahul paling kiri.
Nanak yang beragama Hindu terlihat menangkupkan tangannya ke atas di
depan dahi. Yabes yang beragama Kristen berlutut sambil mencium kedua
tangannya. Sedangkan Miftahul bersujud syukur dengan kepala menyentuh
rumput lapangan.
Nanak mengaku senang apabila selebrasi mendapatkan reaksi positif dari publik.
"Apa yang kami lakukan spontan. Selebrasi itu merupakan wujud syukur
kami. Dari selebrasi tersebut, kami juga menunjukkan bahwa kami
bersaudara," , Selasa (6/6/2017).
"Sepak bola juga kan alat pemersatu. Sepak bola tidak mengenal agama
dan ras karena kami membela bendera yang sama," tutur pemain yang pernah
memperkuat Persija Jakarta tersebut.
Selebrasi ini mendapatkan sambutan positif tak terkecuali pemain
sepak bola. Salah satunya adalah Ilija Spasojevic. Dia mengunggah foto
selebrasi tersebut di Instagram-nya.
Selebrasi ini bukan kali pertama ditunjukkan pemain Bali United. Pada laga di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar, Minggu (14/5/2017) silam, selebrasi yang sama juga dilakukan.
Yabes yang saat itu mencetak gol ke gawang Borneo FC berlari ke sudut
lapangan merayakan golnya tersebut. Saat itu, Miftahul dan pemain lain
juga tampak menghampiri Yabes untuk merayakan gol pemain asal Alor
tersebut.
Yabes lalu berlutut sambil berdoa. Di samping Yabes, Miftahul dan Ricki
Fajrin bersujud. Reaksi netizen juga sama kala itu. Banyak yang memuji
karena selebrasi tersebut ibarat oase di tengah gejolak yang terjadi di
Indonesia.
jendela berita dunia
Sabtu, 05 Agustus 2017
Sabtu, 15 Juli 2017
Memanjakan perut dan mata
Dengan harga set menu $2.000 per orang, Sublimotion (Platfa d en Bossa, Hard Rock Hotel Ibiza, Span yol; 34-618/891- 358; subIimot,onibiza.com tak ayal menyabet status restoran termahal sejagat. Tapi banderol fantastis tersebut sepertinya sepadan dengan tawarannya.
Dilandasi filosofi bahwa makan bukan cumna soal urusan perut, tapi juga
asupan bagi mata dan jiwa, Sublimotion mengawinkan seni kuliner dengan teknologi visual mutakhir. Sembari
menyantap hidangan, tamu bakal dihibur
oleh presentasi
video-mapping dan efek-efek
khusus
yang menghibur. Untuk sesi
dessert misalnya, meja bakal mengeluarkan
efek asap. Sedangkan untuk menu vegetarian, muncul alas rumput. Restoran
yang berkapasitas cuma 12
orang itu dicetuskan oleh Paco Roncero,
koki dengan rekain jjak yang panjang dan impresif. Saat bekerja di La Terraza
del Casino, pria Spanyol mi sukses mendatangkan dua bintang Michelin. Pada 2005, dia menerima penghargaan restisius Chef
l2Tvenir dan Spanish Royal Academy of
Gastronomy. Membuat restoran yang bermain—main dengan teknologi seperti
Sublimotion bukan hal baru baginya. Dua tahun silam, Roncero meluncurkan Paco
Roncero
Taller, sebuah
“laboratorium kuliner” di Casino de Madrid. Ruang eksperirnental mi mengeksplorasi
teknologi cahaya, aroma, dan suara untuk menciptakan suasana makan atraktif
yang melibatkan banyak indra sekaligus—suguhan rumit dan canggih yang
dijulukinya “atelier ofemotions.”_HI ©
Langganan:
Postingan (Atom)
Selebrasi Bali United yang penuh arti
Momen tersebut terjadi dalam pertandingan Liga 1 antara Bali United dan Perseru Serui di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Bali, Minggu (4/6/2...
-
Dengan harga set menu $2.000 per orang, Sublimotion (Platfa d en Bossa, Hard Rock Hotel Ibiza, Span yol; 34-618/891- 358; su...

